Rabu, 12 Februari 2014

Rabu, Februari 12, 2014


Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Ustadz Sigit yang saya hormati,
Saya hanya ingin menanyakan tentang maraknya bencana alam yang
menimpa suatu negeri dengan berturut-turut dan beruntun. Apakah ini
semua merupakan azab Allah SWT ?Apakah Allah SWT hendak menunjukkan
kesalahan negeri tersebut ? Adakah dari kalangan ulama salaf yang
mengupas tentang fenomena munculnya bencana alam yang menimpa suatu
negeri secara beruntun ?
Atas penjelasannya saya ucapkan jazakallah khoiron katsiro.
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Saudara Abu Zaid yang dimuliakan Allah SWT
Dalam beberapa tahun terakhir, negeri ini terus menerus secara
beruntun ditimpa berbagai bencana yang banyak memakan korban jiwa dan
kerugian harta benda. Terakhir sekali ujian di bulan lalu, hanya dalam
sebulan (oktober) negeri ini ditimpa 3 bencana: tanah longsor di Wasior,
tsunami di Mentawai dan letusan gunung Merapi yang hingga hari ini
masih terus mengeluarkan materialnya dengan letusan-letusannya.
Lalu apakah itu semua ujian atau adzab dari Allah SWT ?
Jika kita melihat pada tabiat berbagai musibah itu berupa
kesengsaraan atau kesulitan lalu melihat waktu kejadiannya di dunia
serta sasaran atau obyeknya yang menimpa orang-orang yang ada di sekitar
wilayah musibah-musibah itu tanpa membedakan antara orang-orang baik
atau zhalim maka bisa dikatakan bahwa ia adalah ujian bagi sebagian
orang untuk memilah kualitas keimanan dan ketaatan mereka sebagaimana
firman-Nya :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ ﴿٢﴾
Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji
kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa
lagi Maha Pengampun.”
(QS. Al-Mulk [67] : 2)

Dan bisa jadi ia adzab dari Allah bagi sebagian lainnya yaitu para
pelaku maksiat dan dosa yang enggan untuk bertaubat, sebagaimana
dinyatakan oleh firman Allah SWT:
فَلْيَضْحَكُواْ قَلِيلاً وَلْيَبْكُواْ كَثِيرًا جَزَاء بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿٨٢﴾
Artinya: “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At Taubah [9] : 82)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali berkata, “Maukah aku beritahukan
kepada kalian tentang ayat yang paling utama dalam kitabullah ta’ala,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakannya kepada kami, (yaitu ayat): “(Apa
saja musibah yang menimpa kalian maka disebabkan oleh perbuatan
tangan-tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Ash-Shura [42] : 30), dan saya akan
menafsirkannya kepadamu wahai Ali, apa-apa yang menimpa kalian berupa
sakit, siksaan atau cobaan di dunia, maka itu disebabkan oleh perbuatan
tangan kalian dan Allah ta’ala Maha Pemurah dari hendak
mengadzab dua kali kepada mereka ketika di akherat sedangkan apa-apa
yang Allah maafkan di dunia maka Allah ta’ala Maha Lembut dari hendak kembali setelah memaafkannya.”

Siksa atau adzab yang diberikan Allah SWT itu disebabkan dosa-dosa mereka sebagaimana firman-Nya:
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا ﴿١٤﴾
Artinya: “Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu,
Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah
menyama-ratakan mereka (dengan tanah).”
(QS. Asy-Syams [91] : 14)
Para Pemimpin yang Jauh Dari Allah
Dosa-dosa dan kemaksiatan yang dilakukan itu menuntupi hati dan
keimanan mereka. Ketiadaan iman membawa mereka melakukan berbagai
kerusakan bukan hanya yang bersifat fisik, seperti pengrusakan alam,
namun juga yang bersifat mental, seperti: kezhaliman, tidak
memperhatikan halal dan haram, boleh dan tidak boleh menurut agama serta
lainnya. Ketiadaan iman itu tidak hanya merusak diri mereka sendiri
akan tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Semakin banyak para pelaku
dosa dan kemaksiatan ini maka semakin berat pula bahaya dan akibat yang
ditimbulkannya.

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ﴿٣٠﴾
Artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian
besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Ash-Shura [42] : 30)
Kerusakan mental dan ketiadaan iman manusia di suatu negeri tidaklah
bila dilepaskan dari kerusakan agama para pemimpin dan ulamanya. Ibnul
Mubarok mengatakan, ”Tidaklah kerusakan agama (iman) yang ada kecuali
dikarenakan para penguasa dan ulama su’u (buruk).”
Senada dengan apa yang perkataan Ibnul Mubarok diatas, Imam Ghazali
di dalam kitabnya “Ihya” menyebutkan bahwa sesungguhnya kerusakan
terjadi para rakyat disebabkan kerusakan para pemimpin dan kerusakan
para pemimpin disebabkan kerusakan para ulama.”
Ketika para pemimpin suatu negeri tidak lagi memiliki keimanan di
hatinya, tidak memperdulikan halal-haram, mengabaikan syariat Allah,
membuat berbagai kebijakan dan aturan yang menzhalimi umat, asyik
tenggelam dengan dunianya sendiri, terus menambah pundi-pundi
kekayaannya, melanggengkan jabatannya sementara mereka menutup mata atas
kesulitan rakyatnya maka selain membawa kesengsaraan kepada masyarakat
secara umum juga dapat medatangkan kemurkaan Allah swt ketika para
ulamanya tidak lagi mau menasehati dan meluruskan mereka.

Disadari atau tidak, sesungguhnya prilaku buruk para pemimpin dapat
menjadi contoh buruk bagi para pemimpin yang ada di level bawahnya atau
juga bagi masyarakat yang menyaksikannya. Sungguh mereka tidak hanya
memikul dosa-dosa perbuatan mereka saja akan tetapi juga dosa-dosa
orang-orang yang mengikutinya. Tepatlah apa yang disebutkan Ibnu Hajar
di kitabnya “al Fath” bahwa rakyat itu tergantung (kualitas) agama para
pemimpinnya.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa jika para pemimpin yang
mengurusi jiwa-jiwa dan harta rakyatnya tetap istiqamah (diatas
kebenaran) maka rakyat mereka pun akan istiqamah, sebagaimana
perkataaan Abu Bakar kepada wanita Ahmasiyah di dalam riwayat Imam
Bukhori, ”Wanita itu berkata: ‘Apa yang membuat kami eksis di atas
kebaikan dari apa yang Allah datangkan setelah zaman jahiliyyah ini?’
Abu Bakar menjawab: ‘Yang membuat kalian tetap di atas kebaikan adalah
selama pemimpin-pemimpin kalian istiqamah.’ Wanita itu bertanya:
‘Siapakah para pemimpin?’ Abu Bakar menjawab: ‘Bukankah kaummu memiliki
para pembesar dan tokoh yang memerintahkan mereka lalu mereka menta’ati
pemimpin mereka?’ Wanita itu menjawab: ‘Ya benar’ Abu Bakar berkata:
‘Mereka itulah para pemimpin masyarakat’.”
Karena itulah para pemimpin umat ini terdahulu sangat khawatir jika mereka tidak bisa istiqamah
di atas jalan dan manhaj Allah SWT di dalam mengurusi permasalahan
rakyatnya. Mereka betul-betul meyakini kalaulah bisa lepas dari
pengamatan orang lain, luput dari pengadilan dunia akan tetapi mereka
tidaklah bisa menghindari pengadilan Allah swt yang akan menanyakan
semua harta yang didapat, perbuatan yang dilakukan, kekuasaan yang
direbut, jabatan yang diraih, kebijakan yang dibuat. Abu Daud
meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Seorang amir adalah pemimpin bagi rakyatnya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas mereka.”

Ketika Umar bin Abdul Aziz berada di mushallanya lalu istrinya masuk
dan melihat Umar tengah menopang kedua pipinya dengan kedua tangannya
sambil mengucurkan air mata yang membasahi janggutnya. Istrinya pun
bertanya, “Wahai Amirul Mukminin adakah suatu kejadian?” Umar menjawab,
“Wahai Fatimah sesungguhnya di leherku terdapat urusan umat Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam
baik yang berkulit hitam atau merah. Lalu aku merenungi perkara orang
miskin yang lapar, orang sakit yang lemah, yang telanjang tak
berpakaian, yang tertindas, terzhalimi, teraniaya, terasing, para
tahanan, orang-orang tua renta, orang yang memilik banyak anak-anak
sementara harta mereka sedikit atau orang-orang seperti mereka semua
yang ada di seluruh pelusuk tanah air dan penjuru negeri, sungguh aku
mengetahui bahwa Tuhanku akan menanyaiku tentang (keadaan) mereka pada
hari kiamat maka aku takut tidak memiliki satu argumentasi pun
dihadapan-Nya maka aku pun menangis.”

Renungan dan tangisan yang bukan hanya basa basi namun dibuktikan
dengan kezuhudan, keadilan dan perhatian besarnya untuk senantiasa
mendahulukan kepentingan rakyatnya daripada diri dan keluarganya,
senasib dan sepenanggungan dengan rakyatnya meskipun hanya 2.5 tahun
Umar memegang tampuk kekuasaan sebelum akhirnya beliau meningal dunia
karena diracun.

Di masanya, tidak ada dari kaum muslimin yang berhak menerima zakat
(mustahik) dari baitul mal sehingga beliau memutuskan bahwa kelebihan
harta di baitul mal-baitul mal kaum muslimin itu dibagi-bagikan kepada
orang-orang Yahudi dan Nasrani namun mereka pun semua menolak karena
merasa selama ini telah dicukupkan oleh baitul mal. Lalu beliau meminta
agar para gubernurnya membebaskan para budak, membayarkan utang
orang-orang yang berhutang, menikahkan para pemuda yang tidak sanggup
menikah serta membiayai kebutuhan mereka namun tetap saja harta itu
masih melimpah hingga pada akhirnya dikembalikan lagi ke baitul
mal-baitul mal kaum muslimin.
Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz selesai melaksanakan shalat isya
lalu dia menemui putri-putrinya dan memberikan salam kepada mereka.
Ketika itu putri-putrinya merasakan sesuatu sehingga mereka menutupi
mulut-mulut mereka dengan tangan mereka dan bersegera keluar (tidak
menemui ayahnya). Umar pun bertanya kepada wanita pengasuh mereka, ”Apa
yang terjadi dengan mereka?” Wanita itu menjawab, ”Sesungguhnya mereka
tidaklah memiliki sesuatu untuk makan malam kecuali hanya kacang adas
dan bawang merah lalu mereka khawatir engkau akan mencium baunya dari
mulut-mulut mereka.” Umar pun menangis dan berkata kepada mereka, ”Wahai
putri-putriku, sesungguhnya berbagai jenis makanan untuk makan malam
tidaklah bermanfaat bagi kalian jika kelak ayah kalian dicemplungkan ke
neraka.” Maka putri-putrinya itu pun menangis dengan suara keras dan
Umar pun berlalu.

Umar adalah sosok pemimpin yang menyadari bahwa kepemimpinan adalah
amanah berat bukan sarana memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya.
Diceritakan dari Abdul Aziz putra Umar bin Abdul Aziz bahwa aku pernah
dipanggil (khalifah) al Manshur dan dia bertanya, ”Berapakah kekayaan
Umar bin Abdul Aziz ketika diangkat sebagai khalifah?” Aku menjawab,
”50.000 dinar.” Al Manshur kembali bertanya, ”Lalu berapakah kekayaannya
di hari kematiannya?” Aku menjawab, ”hanya 200 dinar.”
Dari Amr bin Muhajir bahwa belanja Umar bin Abdul Aziz setiap harinya
adalah 2 dirham. Dari Said bin Amir adh Dhab’i dari Aun bin al Mu’tamar
bahwa Umar bin Abdul Aziz berkata kepada istrinya, ”Apakah kamu punya
satu dirham untuk aku belikan anggur?” Istrinya menjawab, ”Tidak punya.”
Umar kembali bertanya, ”Apakah kamu punya beberapa sen saja?” Istrinya
menjawab, ”Tidak. Anda Amirul Mukminin sementara anda tidak sanggup
menghadirkan satu dirham!’ Umar menjawab, ”Keadaan seperti ini jauh
lebih ringan daripada gulungan rantai di neraka jahanam.”

Fatimah istri Umar bin Abdul Aziz pernah menceritakan bahwa beliau
adalah orang yang paling banyak shalat dan puasa, dan aku tidak melihat
seorang yang paling menyendiri dengan Tuhannya daripada dirinya. Beliau
apabila selesai melaksanakan shalat isya maka memperpanjang duduknya di
masjid lalu mengangkat kedua tangannya dengan terus menangis sehingga
kedua matanya diserang kantuk kemudian terjaga sementara dirinya masih
berdoa dengan mengangkat kedua tangannya sambil menangis kemudian kedua
matanya diserang kantuk lagi dan terjaga lagi, begitulah (keadaannya)
sepanjang malam.

Sungguh sosok kepemimpinan yang saat ini hilang dari tubuh umat
meskipun umat ini memiliki ribuan atau bahkan ratusan ribu pemimpin.
Sosok kepemimpinan yang didambakan dan dirindukan kehadirannya untuk
bisa mengangkat kualitas hidup dunia maupun akherat mereka. Sosok
kepemimpinan yang mendahulukan rakyatnya saat senang dan membelakangkan
mereka saat sulit karena takut hari perhitungannya dihadapan Allah SWT.

Larinya Para Ulama dari Amanah
Kelemahan iman dan jauhnya para pemimpin dari Allah SWT adalah juga
disebabkan pengabaian para ulama dan dainya dari tugas utamanya sebagai
pewaris Nabi yaitu menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar dan pengabaian
terhadap amanah ilmu yang dipikul di pundaknya disebabkan tak kuasanya
mereka terhadap tarikan-tarikan dunia berupa harta, kekuasaan dan
jabatan dan terkadang pula wanita.
Imam Ghazali mengatakan dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin”, ”Adapun saat
ini para pemimpin yang tamak telah mengikat lidah-lidah para ulama
sehingga menjadikan mereka terdiam tidak bisa berbicara, kata-kata
mereka tidaklah membantu keadaan-keadaan mereka maka mereka pun
mengalami kegagalan. Seandainya mereka jujur dan benar dalam menunaikan
hak ilmunya maka pastilah mereka sukses. Maka kerusakan rakyat
disebabkan kerusakan para pemimpin dan kerusakan para pemimpin
disebabkan kerusakan para ulama dan kerusakan para ulama disebabkan
mereka dikuasai sifat cinta harta dan jabatan. Barangsiapa yang dikuasai
oleh cinta dunia maka dia tidak akan mampu mengawasi berbagai dosanya,
lantas bagaimana dengan para penguasa dan pejabat?”

Para ulama dan dai yang memiliki ilmu agama saja ketika dikuasai oleh
cinta harta dan jabatan tidak mampu mengendalikan dirinya untuk tidak
berbuat maksiat dan dosa apalagi para pemimpin yang tidak memiliki dasar
ilmu agama tentunya lebih tidak mampu lagi mengendalikan diri mereka
untuk tidak berbuat maksiat dan dosa.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِيَ
آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ
فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ ﴿١٧٥﴾وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا
وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ
كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ
يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا
فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿١٧٦﴾
Artinya: “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah
Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al
Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia
diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk
orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung
kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka
perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga).
demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami.
Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka
berfikir.”
(QS. Al A’raf [7] : 175-176)

Ibnu Katsir didalam tafsirnya menjelaskan tentang makna وَلَكِنَّهُ
أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ adalah cenderung kepada perhiasan dan bunga-bunga
dunia, menginginkan kelezatan dan kenikmatannya. Hingga akhirnya dia
pun terpedaya sebagaimana terpedayanya orang-orang selainnya dari
kalangan para ulama.

Sementara Sayyid Qutb mengatakan bahwa makna “mengikuti hawa nafsu”
adalah mengikuti hawa nafsunya sendiri dan hawa nafsu para penguasa yang
memiliki diri mereka (para ulama itu) untuk kepentingan mereka
(penguasa) demi mencari harta benda kehidupan dunia.
Betapa banyak orang-orang alim dalam agama dan kami melihat mereka
memahami hakikat agama Allah kemudian tergelincir darinya lalu
menyuarakan selainnya, memanfaatkan ilmunya dalam berbagai penyimpangan
yang dikehendaki, fatwa-fatwa yang dinginkan para pemimpin dunia yang
semu! (Fii Zhilalil Qur’an juz III hal 322)
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al Yaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya
kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan
mengirimkan siksa-NYa dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian
memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” Abu Isa
berkata; Hadits ini hasan.

Umat ini membutuhkan para ulama dan dai yang robbaniyin yang
senantiasa berhubungan erat dengan Allah SWT, hati dan fikirannya
senantiasa terikat dengan akherat meskipun jiwa mereka di dunia
berinteraksi dengan umatnya. Para ulama yang tidak berorientasi dunia
dan mencari keuntungan-keuntungan dunia dengan ilmunya, yang takut
menyia-nyiakan amanah ilmu dan dakwah yang telah dipikulkan Allah diatas
pundaknya, senantiasa menyerukan yang maruf dan mencegah yang munkar
meskipun orang-orang tidak menyukainya sebagaimana dicontohkan oleh para
pendahulu mereka dari kalangan salafus shaleh.
Karena itu sekecil apa pun kemaksiatan dan dosa yang ada
ditengah-tengah umat tidak boleh dibiarkan karena ia akan terus
melebarkan pengaruhnya kepada orang-orang disekitarnya sehingga
menjadikan banyak para pendukungnya bagaikan suatu penyakit menular yang
manakala didiamkan tidak diobati akan semakin menularkan orang-orang
yang ada disekitarnya dan membahayakan mereka semua.
Semoga berbagai kejadian dan musibah di negeri ini semakin
menyadarkan para ulama, pemimpin dan rakyatnya untuk menahan diri dari
segala kemaksiatan dan kembali kepada Allah dengan berbagai amal-amal
ketaatan kepada-Nya. Karena kebaikan negeri ini kembali kepada keimanan
dan ketakwaan ketiganya.
Wallahu A’lam.
Ustadz Sigit Pranowo Lc


Tertarik dengan kumpulan konsultasi Ustadz menjawab, silahkan klik link dibawah ini :
Resensi Buku : Fiqh Kontemporer yang membahas 100 Solusi Masalah Kehidupan…
http://m.eramuslim.com/resensi-buku/100-solusi-masalah-kehidupan-dalam-fiqh-kontemporer.htm




dikutip dari : eramuslim.com

0 Comments:

Posting Komentar