Rabu, 20 November 2013

Rabu, November 20, 2013

(Preambule)

Tulisan ini adalah pengantar untuk menerangkan hakikat dan metode menulis puisi. Akan saya sajikan secara serial, dan semoga berguna.
Bila anda bertanya, apa yang dimaksud puisi kepada 1000 orang, bisa jadi anda akan mendapatkan 1000 jawaban yang berbeda-beda. Puisi bersifat relatif, meskipun saya yakin, di dalamnya terkandung nilai universal yang mengglobal. Semisal menayakan definisi cantik, jawabannya cantik itu relatif. Tapi ada parapemeter universal yang disepakati secara konvensi untuk mengatakan "cantik", misalnya dengan diajukan pertanyaan, apakah menurut anda maria ozawa (miyabi) itu cantik, kiranya akan didapat jawaban yang umum.

Persoalannya, bahwa menulis puisi memang sama sulitnya dengan mendefinisikan puisi itu sendiri, juga sama sulitnya dengan menilai sebuah puisi apakah termasuk bagus atau biasa-biasa saja. Disebut sulit, dalam artian, menulis puisi untuk semua kalangan dan merangkai definisinya yang bisa diterima oleh semua kalangan, memang tidak mudah. Juga, belum tentu puisi yang baik menurut satu kalangan, akan dinilai bagus menurut kalangan yang lain. Dengan kata lain, terdapat nilai subjektivitas dalam perpuisian, sehingga mereka yang bergelut dengan perpuisian mendapatkan permakluman melalui litentia poetica (kebebasan berekspresi). Dengan adanya litentia poetica ini, bisa diasumsikan bahwa nilai sebuah puisi bersifat relatif, yang akan bergantung kepada siapa yang menilai dan dari sudut mana ia menilainya.

Dengan kata lain pula, tidak ada kebenaran mutlak dalam puisi, semuanya bersifat prismatis atau ambivalen. Keyakinan seperti ini pula yang digenggam oleh seorang Syakieb Ahmad Sungkar, kolektor seni rupa yang bekerja secara profesional di bidang oprator selular. Dulu Syakieb bekerja di Indosat, kini pindah ke Axis. Syakieb bukan seorang teoretikus puisi, tetapi pendapatnya mengenai puisi, misalnya saat menilai puisi Jantung Lebah Ratu karya Nirwan Dewanto atau puisi-puisi Afrizal Malna dan Sutardji Calzoum Bachri, memperlihatkan bahwa ia termasuk pemerhati perpuisian.


Tidak ada kebeneran mutlak juga tidak ada kebenaran tunggal dalam perpuisian. Karena itulah, aktivis seni-budaya macam Taufik Rahzen, selalu berusaha mencari kebenaran alternatif yang bisa diyakini dan diteorikan. Dengan kata lain, dalam menilai puisi, Taufik berusaha mencari penilaian lain untuk melihat karya seni. Ia tidak akan menerima begitu saja legitimasi yang dikeluarkan oleh sebuah institusi maupun perorangan. Misalnya sebuah kalangan, menyatakan habis-habisan puisi Taufik Ismail itu luar biasa hebatnya, tetapi kalangan lain ada yang menilai, puisi Taufik terlalu banal, dan puisi yang banal menjadi kurang indah. Taufik Rahzen tidak akan begitu saja menerima pendapat yang diajukan dua kalangan itu.

Tetapi meskipun tidak ada kebenaran mutkak atau tunggal dalam kesenian (baca: puisi), bukan berarti tidak terkandung nilai yang lebih universal, yang lebih bisa diterima oleh halayak yang lebih ramai. Manusia, secara alamiah telah diberi bekal untuk saling menyamakan persepsi, sehingga terbentuk kesepakatan untuk menyatakan sesuatu itu bagus atau buruk. Kesepakatan atau konvensi itulah yang kemudian dirakit menjadi teori.

Ada banyak ilmuan yang telah menciptakan teori dalam menulis puisi, yang dinukil dari konvensi. Dan sejatinya, setiap orang bisa membuat teori sendiri, sebab seperti kata Umberto Echo, teori terbaik ialah yang diracik sendiri dari pengalaman di lapangan.

Baiklah, seperti halnya juga manusia, karya puisi terdiri atas jiwa dan raga, atau ruh dan tubuh. TS Elliot dan IA Ricahrd, sastrawan Amerika, memberi istilah “hakikat” untuk jiwa atau ruh puisi, dan “metode” untuk raga atau tubuh puisi. Di Nusantara, istilah “hakikat” dan “metode” sudah lama diberi istilah dengan “isi” dan “bentuk”, dan belakangan, seiring maraknya wetsernisasi ilmu pengetahuan, mulai banyak yang menggunakan istilah “teks” dan “konteks” untuk menengarai isi dan bentuk kesenian, termasuk seni puisi.

Lalu seperti apa hakikat dan metode atau isi dan bentuk puisi itu?
Pada “hakikat” sebuah puisi, terdapat empat unsur penting, yakni: Tema, amanat, imajinasi, dan suasana.


1. Tema adalah elan vital (persoalan utama) yang dibicirakan dalam puisi.
2. Amanat adalah pesan yang hendak disampaikan dalam puisi.
3. Imajinasi adalah citra atau gambaran yang dibangun dalam puisi.
4. Suasana adalah emosi sang penyair saat menuliskan karyanya, dan emosi tersebut dapat dirasakan oleh pembaca. Muara dari suasana ialah penghayatan. Puisi yang dangkal penghayatan, akan sulit dibacakan dengan penuh penghayatan.

Sedangkan mengenai “metode” atau bentuk puisi, terdapat beberapa unsur sintaksis (tatabahasa) dan diksi yang cenderung digunakan untuk membangun sebuah puisi. Unsur-unsur itu antara lain.
1. Diksi atau pilihan kata.
2. Rima atau bunyi.
3. Enjabemen atau ketukan.
4. Gaya bahasa.

Demikianlah unsur-unsur yang membangun Hakikat dan Metode puisi. Kami akan uraikan satu per satu unsur-unsur di atas pada tulisan lainnya. Bagi yang hendak serius mempelajari puisi, ada baiknya unsur-unsur di atas dapat dihapal. (bersambung)



Written by Lamma Sabachtani   
Kamis, 18 November 2010  

0 Comments:

Posting Komentar