Kamis, 02 Februari 2012

Kamis, Februari 02, 2012




Engkau kembali datang menunggangi angin
membawa rindu yang menggelinyang , dalam kabut bayang-bayang
seolah membawamu ingin segera pulang
dan aku tahu itu, sayang.

pohon-pohon randuk dan janur kelapa
melambai-lambai memberi kabar akan angin yang menghembuskan segala ingin.
dan disitu cinta mengambang di perut rembulan, 
disaat gemintang melantunkan irama lagu "bulan purnama",
seketika rindu menggaung ,kandas di beranda malam.
manakala burung layang-layang berkelebat membelah kelam
menyibak sunyi itu , mengurai sepi ini,
disaat kantuk menghantar ke ruang lengang tidurmu.

sedangkan aku tak usai membuka lembar berita tragedi ibu pertiwi
di kertas-kertas koran yang kusam,
di dalam layar kaca televisi, kusaksikan supremasi hukum
pemberantasan korupsi masih tebang pilih ,
yang salah melenggang kangkung, 
sementara yang benar disalahkan.
; Mukanya semakin murung
terlihat ada gejolak bathin yang terkurung
sementara disana telah terjadi tragedi
beragam intrik,kolusi dan manipulasi
para buruh demonstrasi saban hari menuntut hak azasi
yang telah lama dipangkas oleh pemilik modal asing
pahlawan devisa masih saja dikebiri di luar dan dalam negeri
teriak mereka lantang meradang
di jalan raya yang berlubang-lubang

”Hingga kini penguasa masih saja takut dengan pengusaha”
Seolah-olah tak berdaya membumkam permainan mereka

di lembar yang lain,
mereka yang telah diterpa bencana,
masih mengusap dada, nelangsa
menyeka deras air mata yang membasahi luka.
disaat jerit tangis orang-orang pinggiran,
kaum miskin migran, serta kaum gelandangan 
merintih menahan perih digilas roda zaman,
sedangkan mereka sibuk membagi-bagi kursi tahta,
menguras uang negara dengan berbagai macam cara
ada yang melempar bola panas ke tengah pangung senayan
lempar batu sembunyi tangan
lalu sibuk mencari kambing hitam,


sedangkan kita disini tak jua usai larai
merakit cinta yang terbengkalai, hingga sangsai.
merajut bianglala, memahat kaligrafi cinta di cakrawala,
di ruang lengang sajak 
saat  angin malam melintasi cahaya rembulan.


" hingga kita pun sesaat lupa ada berita tragedi di dada ibu pertiwi "


Bintang Kejora * Syahrial Mandeliang *
Pekanbaru Januari 2012 






0 Comments:

Posting Komentar