Senin, 30 Mei 2011

Senin, Mei 30, 2011

SEBELUM AKU  BERANGKAT, KU SEDUH KOPI  JALANG INI DENGAN DO’A

( sesaat sebelum berangkat menuju tanah rantau , kota Pekanbaru – kab.Pelalawan)

Sebelum aku berangkat menjadi tualang di rantau orang
Ku hempaskan cemas dan bimbang yang kepalang
Ku buang jauh lewat semilir angin yang berhembus menuju petang
ku kemas lagi halaman puisi di terik siang
Meninggalkan gaung petuah resam datuk Tenas Efendi,
melupakan sejenak berita pilkada calon walikota menuju kusri 1 Pekanbaru bertuah,
Ku kemas hiruk pikuk kota serumpun metropolitan ini dalam jaketku
lalu Ku nyalakan roda mesin waktu dari kota bertuah menuju pelalawan amanah

" oh tanah rantau jauh di pandang tanah seberang "

dan Ku lambaikan jua tanganku yang gemetar ini ke kubah Masjid Raya yang sudah tua menurutku dalam sejarah padahal Hatiku basah jiwaku terbelah sisa puing peninggalan sejarah Masjid Raya kian punah, sejarah ali Haji Ali Pekan perlahan hilang tuah


lalu Ku aduk lagi kopi pahit bernama Indonesia ini, ada gambar logo gelandangan dan kaum Du’afa di bungkusnya, ah walau harganya murah meriah namun rasanya lebih pas di lidahku saat ini dibandingkan kopi luak itu walau tak dapat ku sebandingkan dengan tangan-tangan kaum kecil yang tak terjangkau


Sebelum aku berangkat ku seduh do’amu ibu
Dalam secawan kopi jalang ini
Ku cium aroma syurga Di luas jemarimu yang terlihat berkerut dan lusuh
Jangan biarkan airmatamu tumpah di dalam dada, ibu
Bukankah bunda yang telah mengajarkan aku, anakmu
Bagaimana menatap matahari dengan ketegaran jati diri ?
Ibu, mohon doamu untuk ananda
selamat dan sukses langkahku ini di tanah rantau
Dan esok sekembaliku dari tanah tualang akan ku bawakan sekeranjang puisi untukmu
Ibu ...


 @ senandung jiwa Nyanyian pengembara @

Bintang Kejora II , Mei 2011

0 Comments:

Posting Komentar